8 February 2009

Arsitek – Praktik Arsitek – Profesi Arsitek dalam kegiatan perancangan, pengawasan, pelaksanaan.

Arsitek yang merancang (kalau mau disebut “profesional”) harus menguasai seluruh keahlian / pengetahuan yang mendukung dalam melakukan tugasnya. Lihat 13 butir kompetensi UIA yang dipergunakan sebagai bakuan kompetensi serta dijadikan dasar pemberian SKA oleh IAI. Termasuk didalamnya adalah penguasaan tentang estimasi biaya, metoda membangun, spesifikasi teknis, dll. Namun menguasai hal-hal tersebut bukan berarti harus mengerjakannya sebagai satu hasil karya / produk tersendiri, terlepas dari profesi arsitek yang merancang. Kalau mau ditambahkan dalam keahlian arsitek juga ada pengetahuan tentang struktur, M/E, dll, apakah seorang arsitek juga harus mengerjakannya ? Disini perlunya “kompetensi” guna membangun tertib kegiatan profesional. Seorang yang kompeten untuk satu bidang keahlian artinya dia dapat dimintai pertanggungjawaban profesional atau bertanggung jawab terhadap hasil karyanya sejauh kompetensi yang dimilikinya sebagai seorang profesional. Yang dibangun IAI (sejauh yang saya tahu) adalah kompetensi sebagai arsitek, artinya dia menguasai keahlian, ilmu, kemampuan, pengetahuan, dst sebagai seorang arsitek (yang diakui). Terlepas dimana dia berada dan bekerja, baik sebagai perancang, pengawas, direktur, bahkan di perusahaan kontraktor sekalipun, selama yang dikerjakannya sesuai atau memenuhi kriteria-kriteria seorang arsitek.

Rasanya memang harus dibedakan antara “profesi” dan “okupasi”. Satu profesi berhubungan dengan kompetensi dan cenderung bersifat permanen, okupasi berhubungan dengan jabatan di satu kegiatan dan sifatnya tidak permanen. Makanya ada istilah “banting setir” ketika seseorang beralih profesi, tapi tidak demikian halnya ketika seseorang beralih/berganti jabatan. Jadi tidak bisa dibandingkan atau malah dibenturkan. Arsitek, dokter, lawyer/pengacara, akuntan, dll adalah profesi, sedang posisi/jabatan dalam satu proyek atau tim kerja adalah okupasi. Menurut UUJK di dalam satu kegiatan jasa konstruksi dikelompokkan 3 jenis kegiatan yaitu perencanaan/perancangan, pengawasan dan pelaksanaan. Okupasi terkait dengan kelompok-kelompok ini. Jadi Pengawas termasuk okupasi, yang menjabat bisa saja arsitek, tergantung kebutuhan (job des) dari jabatan tersebut.

Nah, Arsitek sebagai satu profesi tentu memiliki kode etik (dan kaidah-kaidah tata laku) yang wajib diikuti. Salah satu butir dalam kode etik tersebut yang selalu menjadi sorotan selama ini adalah mengenai konflik kepentingan. Dimana kita berada, sebagai apa kita bekerja dan apa yang kita kerjakan dalam rangka berprofesi arsitek, tidak masalah selama bisa menghindari terjadinya konflik kepentingan tersebut. Konflik kepentingan tersebut dapat terjadi dimana saja, bahkan di perusahaan konsultan arsitekpun dapat terjadi. Mungkin rekan-rekan yang memegang jabatan struktural di satu PT dapat merasakannya. Yang paling rentan terhadap konflik ini ya jika kita berada di kontraktor karena memang terdapat perbedaan orientasi dalam bekerja. Jadi memang tergantung masing-masing sejauh mana kekuatan menghindari konflik kepentingan ini, yang menggiring pemilihan posisi dalam bekerja. Saya sendiri pernah di beberapa posisi tersebut, namun akhirnya kembali memilih pada posisi perancang murni bahkan bekerja sendiri (tidak masuk dalam satu perusahaan) karena disinilah yang paling “kecil” resiko terjadinya konflik kepentingan tersebut. Yah … cari aman saja.

Rupanya para penggagas dan penyusun kode etik (IAI) dahulu menyadari hal ini, karenanya terkesan seperti melarang seorang arsitek bekerja di kontraktor. Dalam asesmen sertifikasi IAI rasanya yang dinilai adalah kompetensinya, apakah bisa membuktikan dan meyakinkan penguasaan terhadap ke 13 butir bakuan yang diambil dari UIA itu.

Mengenai monopoli istilah “arsitek”, … agak rumit ya …

Memang ada istilah-istilah (arsitektur perbankan, arsitektur komputer / PC, dll, tetapi apakah pelakunya bisa disebut arsitek ? Arsitek perbankan mungkin bisa, tapi Arsitek komputer ? Dulu malah ada istilah Arsitek peperangan, arsitek kegiatan terorisme, arsitek perampokan, dst, yang semuanya mengisyaratkan arti sebagai perancang/perencananya atau aktor intelektual (istilah polisi). Jadi pengertian arsitek ya tidak lepas dari kegiatan “merancang”. Kalau ada bidang arsitektur (yang merancang), maka pelakunya ya harus Arsitek. Kalau tidak merancang apakah bisa disebut arsitek ? Bagaimana dengan pengajar / dosen arsitektur, peneliti arsitektur, penilai satu rancangan arsitektur, dll ? Padahal semuanya terkait atau berhubungan dengan arsitektur, arsitek dan produk arsitekturnya.

Tetapi masih terasa mengganjal mengenai definisi atau pengertian “arsitek” dan juga “arsitektur” itu sendiri. Perlu ada konsesus dan atau kesepakatan bersama seluruh stake holder jasa konstruksi, termasuk dari pihak akademis, mengenai definisi ini.

Ref : 13 butir bakuan kompetensi arsitek – IAI

1.        Perancangan Arsitektur

Kemampuan menghasilkan rancangan arsitektur yang memenuhi ukuran estetika dan persyaratan teknis, dan yang bertujuan melestarikan lingkungan.

(Ability to create architectural designs that satisfy both aesthetic and technical requirements, and which aim to be environmentally sustainable)

2.        Pengetahuan Arsitektur

Pengetahuan yang memadai tentang sejarah dan teori arsitektur termasuk seni, teknologi dan ilmu-ilmu pengetahuan manusia.

(Adequate knowledge of the history and theories of architecture and related arts, technologies, and human sciences)

3.        Pengetahuan Seni

Pengetahuan tentang seni rupa dan pengaruhnya terhadap kualitas rancangan arsitektur

(Knowledge of the fine arts as an influence on the quality of architectural design)

4.        Perencanaan dan Perancangan Kota

Pengetahuan yang memadai tentang perencanaan dan perancangan kota serta ketrampilan yang dibutuhkan dalam proses perancanaan itu

(Adequate knowledge on urban design, planning, and the skills involved in the planning process)

5.       Hubungan antara Manusia, Bangunan dan Lingkungan

Memahami hubungan antara manusia dan bangunan gedung serta antara bangunan gedung dan lingkungannya, juga memahami pentingnya mengaitkan ruang-ruang yang terbentuk di antara manusia, bangunan gedung dan lingkungannya tersebut untuk kebutuhan manusia dan skala manusia.

(Understanding of the relationship between people and buildings and between buildings and their environments, and of the need to relate spaces between them to human needs and scale.)

6.       Pengetahuan Daya Dukung Lingkungan

Menguasai pengetahuan yang memadai tentang cara menghasilkan perancangan yang sesuai daya dukung lingkungan.

(An adequate knowledge of the means of achieving environmentally sustainable design.)

7.       Peran Arsitek di Masyarakat

Memahami aspek keprofesian dalam bidang Arsitektur dan menyadari peran arsitek di masyarakat, khususnya dalam penyusunan kerangka acuan kerja yang memperhitungkan faktor-faktor sosial

(Understanding of the profession of architecture and the role of architects in society, in particular in preparing briefs that account for social factors)

8.       Persiapan Pekerjaan Perancangan

Memahami metode penelusuran dan penyiapan program rancangan bagi sebuah proyek perancangan

(Understanding of the methods of investigation and preparation of the brief for a design project.)

9.       Pengertian Masalah Antar-Disiplin

Memahami permasalahan struktur, konstruksi dan rekayasa yang berkaitan dengan perancangan bangunan gedung.

(Understanding of the structural design, construction, and engineering problems associated with building design.)

10.   Pengetahuan Fisik dan Fisika Bangunan

Menguasai pengetahuan yang memadai mengenai permasalahan fisik dan fisika, teknologi dan fungsi bangunan gedung sehingga dapat melengkapinya dengan kondisi internal yang memberi kenyamanan serta perlindungan terhadap iklim setempat

(Adequate knowledge of physical problems and technologies and of the function of buildings so as to provide them with internal conditions of comfort and protection against climate.)

11.     Penerapan Batasan Anggaran dan Peraturan Bangunan

Menguasai keterampilan yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan pihak pengguna bangunan gedung dalam rentang-kendala biaya pembangunan dan peraturan bangunan

(Necessary design skills to meet building users requirements within the constraints imposed by cost factors and buildign regulations.)

12.     Pengetahuan Industri Kontruksi dalam Perencanaan

Menguasai pengetahuan yang memadai tentang industri, organisasi, peraturan dan tata-cara yang berkaitan dengan proses penerjemahan konsep perancangan menjadi bangunan gedung serta proses mempadukan penataan denah-denahnya menjadi sebuah perencanaan yang menyeluruh

(Adequate knowledge of the industries, organizations, regulations, and procedures involved in translating design concepts into buildings and integrating plans into overall planning.)

13.     Pengetahuan Manajemen Proyek

Menguasai pengetahuan yang memadai mengenai pendanaan proyek, manajemen proyek dan pengendalian biaya pembangunan

(Adequate knowledge of project financing, project management and cost control.)

 UIA ACCORD :

Practice of Architecture

Definition

The practice of architecture consists of the provision of professional services in connection with town planning and the design, construction, enlargement, conservation, restoration, or alteration of a building or group of buildings. These professional services include, but are not limited to, planning and land-use planning, urban design, provision of preliminary studies, designs, models, drawings, specifications and technical documentation, coordination of technical documentation prepared by others (consulting engineers, urban planners, landscape architects and other specialist consultants) as appropriate and without limitation, construction economics, contract administration, monitoring of construction (referred to as “supervision” in some countries), and project management.

Background

Architects have been practicing their art and science since antiquity. The profession as we know it today has undergone extensive growth and change. The profile of architects’ work has become more demanding, clients’ requirements and technological advances have become more complex, and social and ecological imperatives have grown more pressing. These changes have spawned changes in services and collaboration among the many parties involved in the design and construction process.

Policy

That the practice of architecture as defined above be adopted for use in the development of UIA International Standards.

Architect

Definition

The designation “architect” is generally reserved by law or custom to a person who is professionally and academically qualified and generally registered/licensed/certified to practice architecture in the jurisdiction in which he or she practices and is responsible for advocating the fair and sustainable development, welfare, and the cultural expression of society’s habitat in terms of space, forms, and historical context.

Background

Architects are part of the public and private sectors involved in a larger property development, building, and construction economic sector peopled by those commissioning, conserving, designing, building, furnishing, financing, regulating, and operating our built environment to meet the needs of society. Architects work in a variety of situations and organizational structures. For example, they may work on their own or as members of private or public offices.

Policy

That the UIA adopt the definition of an “architect” as stated above for use in developing UIA International Standards.

 

Profesi Arsitek

7 December 2008

PENGERTIAN

Arsitek adalah sebutan ahli yang mampu melakukan peran dalam proses kreatif menuju terwujudnya tata-ruang dan tata-masa guna memenuhi tata kehidupan masyarakat dan lingkungannya, yang mempunyai latar belakang atau dasar pendidikan tinggi arsitektur dan atau yang setara, mempunyai kompetensi yang diakui, serta melakukan praktek profesi arsitek

Profesi Arsitek adalah keahlian dan kemampuan penerapan di bidang perencanaan-perancangan arsitektur dan pengelolaan proses pembangunan lingkungan binaan, yang menjadi nafkah serta ditekuni secara terus menerus dan berkesinambungan
 
Praktek Profesi adalah penerapan keahlian dan kemampuan profesional di bidang tertentu yang memiliki resiko serta konsekuensi tanggungjawab / responsibility, tanggunggugat / liability dan tanggungbayar / accountability
 
Arsitektur adalah wujud hasil perencanaan dan perancangan di bidang jasa konstruksi meliputi tata bangunan, tata ruang, dan tata lingkungan, yang setidak-tidaknya memenuhi kaidah fungsi, konstruksi, dan estetika yang mencakup keselamatan, kenyamanan 

Sarjana arsitektur adalah seseorang yang telah lulus dalam bidang arsitektur dari suatu pendidikan tinggi

Arsitek  adalah seorang ahli dalam bidang arsitektur yang mempunyai kompetensi untuk melakukan praktik arsitek

Praktik arsitek adalah kegiatan kerja yang dilakukan oleh arsitek (di bidang arsitektur)

Profesi arsitek  adalah penerapan praktik arsitek sebagai sumber nafkah utama secara purna waktu dan berkesinambungan



PRAKTIK PROFESI – IMBALAN JASA – TUJUAN SOSIAL

Dari pengertian diatas, jelas bahwa berpraktik profesi arsitek adalah selalu berkaitan dengan imbalan jasa, artinya tujuan/maksud ataupun orientasinya adalah mendapatkan imbalan guna membiayai hidupnya. Arsitek menjual jasanya sedang pengguna jasa / pemberi tugas / pemilik proyek / bouwheer yang membeli jasa tersebut dimana untuk itu ada imbalan yang harus diberikan. Misi yang ada dalam kegiatan ini jelas adalah PROFIT.

Dalam kaitan seorang Arsitek bermaksud membantu masyarakat miskin (tidak mampu membayar Arsitek) maka yang terjadi adalah hubungan “bantuan sosial” yang secara prinsip adalah termasuk dalam kategori kegiatan sosial dimana tujuan / maksud atau orientasinya bukan untuk mendapatkan imbalan guna membiayai hidupnya. Misi yang dijalankan disini adalah NON-PROFIT.

Jadi akan sangat mengganggu apabila kedua misi kegiatan tersebut disandingkan atau bahkan disatukan. Disandingkan dalam arti mencari nafkah sambil membantu yang miskin ataupun sebaliknya membantu masyarakat miskin sambil mencari nafkah. Disatukan dalam arti mencari nafkah dari mereka yang miskin …

IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) sebagai satu organisasi profesi secara prinsip hanya mengurusi kegiatan yang termasuk praktik profesi arsitek walaupun juga mewajibkan anggotanya untuk selalu memperhatikan dan memihak kepada kepentingan masyarakat luas khususnya kalangan bawah/miskin dimana pola kegiatannya harus mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku dalam pakem “kegiatan sosial” (non-profit, tulus dan tanpa pamrih, bukan pencarian nafkah, dll). Harus ada pemisahan/pemilahan yang tegas dan jelas diantara kedua kegiatan ini, pada saat melakukan praktik profesi haruslah mengikuti norma, kaidah dan aturan yang berlaku dan disepakati, sedangkan jika ingin melakukan kegiatan sosial (bantuan/sumbangan) sebaiknya juga mengikuti norma yang berlaku yaitu non-profit, tanpa pamrih, bahkan jika perlu mengalami defisit atau merugi secara materi (namanya juga “menyumbang” …)

Secara organisasi IAI tentunya tidak dapat menjangkau pengaturan kegiatan-kegiatan sosial yang notabene berada dibawah wewenang organisasi/instansi yang bergerak dibidang bantuan sosial seperti itu (departemen sosial ?).

Jadi semuanya kembali kepada maksud dan tujuan masing-masing pribadi, mau berpraktik profesi atau berderma ?
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.